Referensi: A Review on the Use of Blockchain for the Internet of Things. https://doi.org/10.1109/ACCESS.2018.2842685

Salah satu kesalahan paling umum dalam adopsi blockchain adalah menganggap teknologi ini sebagai solusi universal untuk semua permasalahan Internet of Things (IoT). Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam artikel jurnal ini, blockchain tidak selalu menjadi pilihan terbaik untuk setiap skenario IoT. Dalam banyak kasus, database tradisional atau Directed Acyclic Graph (DAG) justru dapat memberikan performa yang lebih efisien dengan kompleksitas yang lebih rendah. Oleh karena itu, sebelum mengintegrasikan blockchain, pengembang perlu mengevaluasi kebutuhan sistem secara cermat.

Langkah pertama dalam menentukan kebutuhan blockchain adalah menilai tingkat desentralisasi yang dibutuhkan. Blockchain menjadi relevan ketika sistem IoT tidak memiliki trusted central authority. Jika seluruh entitas dalam sistem baik perangkat, gateway, maupun pengelola saling mempercayai satu sama lain, maka mekanisme desentralisasi berbasis blockchain menjadi tidak esensial. Sebaliknya, ketika kepercayaan antar pihak rendah atau tidak ada entitas tunggal yang dapat dipercaya, blockchain menawarkan solusi melalui mekanisme konsensus terdistribusi.

Aspek berikutnya adalah pola komunikasi peer-to-peer (P2P). Mayoritas sistem IoT saat ini masih mengandalkan komunikasi terpusat, di mana data dikirim dari node ke gateway lalu diteruskan ke cloud. Dalam arsitektur seperti ini, blockchain sering kali tidak memberikan nilai tambah yang signifikan. Namun, pada skenario tertentu seperti intelligent swarms, mist computing, atau jaringan IoT yang memungkinkan interaksi langsung antar perangkat blockchain dapat berperan sebagai infrastruktur koordinasi dan pencatatan transaksi tanpa perantara.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah kebutuhan sistem pembayaran atau transaksi mikro. Beberapa aplikasi IoT memerlukan mekanisme pembayaran otomatis antar perangkat atau antar entitas tanpa campur tangan manusia, misalnya pada machine-to-machine (M2M) services. Dalam konteks ini, blockchain menyediakan sistem transaksi yang transparan dan dapat diaudit. Meski demikian, artikel ini menekankan bahwa banyak aplikasi IoT tidak membutuhkan transaksi finansial sama sekali, sehingga penggunaan blockchain menjadi berlebihan.

Selain itu, blockchain relevan ketika sistem membutuhkan pencatatan transaksi publik yang berurutan dan tahan manipulasi. IoT sering menghasilkan data yang perlu diberi timestamp dan disimpan secara kronologis, misalnya untuk keperluan audit atau pelacakan. Namun, jurnal ini menegaskan bahwa kebutuhan tersebut sering kali dapat dipenuhi oleh database konvensional, terutama jika sistem relatif aman dan risiko serangan rendah. Blockchain baru menjadi unggul ketika data harus dicatat dalam lingkungan yang tidak sepenuhnya dapat dipercaya.

Pertimbangan penting lainnya adalah ketahanan sistem terdistribusi (robust distributed system). Blockchain memang dirancang untuk menghindari single point of failure, tetapi artikel ini menekankan bahwa sistem terdistribusi juga dapat dibangun di atas cloud atau server farm tradisional. Oleh karena itu, kebutuhan akan sistem terdistribusi saja tidak cukup untuk membenarkan penggunaan blockchain, faktor krusialnya tetap pada ketiadaan kepercayaan terhadap pengelola sistem.

Terakhir, artikel ini menyoroti kebutuhan pencatatan mikro-transaksi secara masif. Beberapa aplikasi IoT memerlukan penyimpanan setiap transaksi demi menjaga traceability atau untuk analisis Big Data. Dalam kasus seperti ini, blockchain atau sidechain dapat menjadi solusi yang tepat. Namun, tidak semua aplikasi IoT membutuhkan pencatatan sedetail itu. Pada sistem dengan keterbatasan bandwidth dan energi, pendekatan agregasi data lokal sering kali jauh lebih efisien.

Diagram alur pengambilan keputusan kapan menggunakan blockchain pada aplikasi IoT
Diagram alur pengambilan keputusan kapan menggunakan blockchain pada aplikasi IoT. Sumber gambar: https://doi.org/10.1109/ACCESS.2018.2842685

Sebagai panduan praktis, penulis jurnal menyediakan diagram alur pengambilan keputusan yang membantu pengembang menentukan apakah blockchain memang diperlukan dan, jika ya, jenis blockchain apa yang paling sesuai dengan karakteristik sistem IoT yang dikembangkan.

Secara keseluruhan, pesan utama dari subsection pada artikel ini sangat jelas: blockchain bukan tujuan, melainkan alat. Penggunaannya harus didasarkan pada kebutuhan nyata sistem IoT, bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Evaluasi yang matang sejak tahap perancangan akan mencegah kompleksitas yang tidak perlu dan memastikan bahwa blockchain benar-benar memberikan nilai tambah bagi aplikasi IoT yang dikembangkan.